Home » Berita Terkini » Bus Hidrogen Transjakarta Mulai Dikaji, Ini Target Pengembangan dan Tantangan Infrastruktur Energinya

Bus Hidrogen Transjakarta Mulai Dikaji, Ini Target Pengembangan dan Tantangan Infrastruktur Energinya

Smallest FontLargest Font

Pertamina dan Transjakarta menjajaki peluang pengembangan bus berbahan bakar hidrogen sebagai bagian dari upaya mendorong transportasi publik yang lebih ramah lingkungan. Pemanfaatan hidrogen menjadi salah satu alternatif teknologi yang menarik perhatian karena berpotensi mengurangi emisi dari sektor transportasi, bergantung pada sumber energi dan teknologi yang digunakan.

Penjajakan ini perlu dilihat dari kesiapan teknologi, infrastruktur pengisian hidrogen, biaya operasional, serta aspek keselamatan kendaraan. Implementasi bus hidrogen secara luas juga membutuhkan kajian teknis dan ekonomi agar sesuai dengan kebutuhan layanan transportasi di Jakarta.

Hingga ada pengumuman resmi mengenai hasil kerja sama dan rencana operasionalnya, detail seperti jumlah bus, jadwal uji coba, lokasi pengisian hidrogen, dan target penerapan belum dapat dipastikan. Informasi tersebut perlu dibedakan dari rencana penjajakan atau wacana pengembangan teknologi.

Pertamina dan Transjakarta Teken Nota Kesepahaman

Penjajakan bus hidrogen ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara PT Pertamina (Persero) dan PT Transportasi Jakarta pada Senin, 12 Oktober 2026. Penandatanganan dilakukan oleh Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza dan Direktur Utama Transjakarta Welfizon Yuza di Jakarta.

Kesepakatan tersebut menjadi langkah awal untuk mengkaji pengembangan ekosistem hidrogen bagi transportasi publik. Fokusnya mencakup peluang penerapan kendaraan berbasis hidrogen melalui proyek percontohan, sekaligus kesiapan penyediaan energi dan infrastruktur pendukung.

Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam penjajakan tersebut meliputi:

  • Pengembangan teknologi: mengkaji penerapan bus berbasis hidrogen untuk layanan transportasi umum.
  • Penyediaan energi: menyiapkan dukungan produksi dan distribusi hidrogen.
  • Infrastruktur pengisian: mengembangkan fasilitas agar pengisian bahan bakar dapat mendukung operasional kendaraan.
  • Pengurangan emisi: mengevaluasi potensi hidrogen dalam mendukung transportasi rendah karbon.

Target Dua Bus Hidrogen pada 2028

Salah satu rencana yang disampaikan dalam pengembangan tersebut adalah penempatan dua bus berbasis hidrogen pada 2028. Kendaraan itu direncanakan berasal dari hibah Pemerintah Korea Selatan kepada Pemerintah Indonesia dan akan dimanfaatkan untuk layanan Transjakarta.

Target tersebut masih perlu dibedakan dari operasional komersial dalam skala luas. Penempatan armada akan bergantung pada kesiapan kendaraan, fasilitas pengisian, pengaturan operasional, dan hasil kajian yang dilakukan oleh pihak terkait.

Berikut ringkasan informasi yang telah disampaikan mengenai rencana bus hidrogen.

Informasi mengenai rute, tarif, frekuensi perjalanan, dan tanggal mulai pelayanan belum dapat dipastikan hanya dari pengumuman penjajakan tersebut. Detail operasional perlu menunggu keputusan dan pengumuman resmi berikutnya.

Apa Itu Bus Hidrogen dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Bus hidrogen merupakan kendaraan yang menggunakan hidrogen sebagai sumber energi untuk menghasilkan tenaga penggerak. Salah satu teknologi yang digunakan adalah fuel cell electric vehicle (FCEV), yaitu kendaraan listrik yang menghasilkan listrik melalui reaksi kimia antara hidrogen dan oksigen di dalam sel bahan bakar.

Berbeda dari bus listrik berbasis baterai yang menyimpan listrik untuk menggerakkan motor, bus FCEV menghasilkan listrik di dalam kendaraan melalui sistem sel bahan bakar. Proses tersebut menghasilkan air sebagai produk utama dari reaksi di dalam sel bahan bakar.

Karakteristik bus hidrogen meliputi:

  • Menggunakan hidrogen: gas hidrogen disimpan dalam tangki khusus yang dirancang sesuai standar keselamatan.
  • Menghasilkan listrik: sel bahan bakar mengubah energi kimia hidrogen menjadi energi listrik.
  • Menggerakkan motor listrik: tenaga listrik digunakan untuk menjalankan kendaraan.
  • Menghasilkan emisi knalpot rendah: kendaraan FCEV tidak menghasilkan karbon dioksida dari proses elektrokimia di dalam sel bahan bakar, meskipun emisi keseluruhan tetap bergantung pada proses produksi dan distribusi hidrogen.

Teknologi tersebut menjadi salah satu alternatif untuk mendukung pengurangan emisi transportasi. Namun, manfaat lingkungannya perlu dinilai berdasarkan sumber hidrogen, efisiensi energi, dan keseluruhan rantai pasok.

Mengapa Hidrogen Dipertimbangkan untuk Transjakarta?

Penggunaan hidrogen dipertimbangkan sebagai bagian dari pengembangan pilihan energi untuk transportasi umum. Jakarta membutuhkan sistem transportasi yang mampu melayani mobilitas masyarakat sekaligus mendukung upaya pengendalian pencemaran udara dan pengurangan emisi.

Kerja sama Pertamina dan Transjakarta membuka ruang untuk mengkaji kesesuaian teknologi hidrogen dengan kebutuhan armada bus. Hasil kajian tersebut penting sebelum teknologi diterapkan dalam skala lebih besar.

Beberapa pertimbangan dalam pengembangan bus hidrogen antara lain:

  • Kualitas udara: kendaraan tanpa emisi karbon dioksida dari knalpot berpotensi membantu mengurangi pencemaran lokal dari proses pembakaran bahan bakar.
  • Kebutuhan operasional: jarak tempuh, waktu pengisian, kapasitas penumpang, dan pola perjalanan perlu dievaluasi.
  • Ketahanan energi: diversifikasi sumber energi dapat mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan bakar.
  • Efisiensi biaya: biaya kendaraan, produksi hidrogen, perawatan, dan fasilitas pengisian perlu dibandingkan dengan teknologi alternatif.

Penggunaan bus hidrogen tidak otomatis menyelesaikan persoalan polusi udara. Hasilnya akan dipengaruhi jumlah armada yang digunakan, sumber energi, serta cara kendaraan tersebut dioperasikan.

Peran Pertamina dalam Pengembangan Ekosistem Hidrogen

Pertamina berperan sebagai salah satu pihak yang menjajaki penyediaan energi dan pengembangan ekosistem hidrogen. Dukungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan bahan bakar kendaraan, tetapi juga dengan kemungkinan pengembangan produksi dan infrastruktur pendukung.

BACA JUGA:  Tiket Pekan Antariksa Dunia 2026: Cek Harga, Lokasi, dan Cara Ikut Acara di Jakarta

Salah satu inisiatif yang disebut dalam pengembangan ini adalah Waste to Hydrogen (W2H), yakni penjajakan pemanfaatan gas metana dari sampah untuk menghasilkan biometana dan hidrogen rendah karbon. Pengembangan tersebut menghubungkan peluang energi alternatif dengan pengelolaan sampah, tetapi penerapannya tetap membutuhkan kajian teknis dan ekonomi.

Peran yang dapat dikembangkan dalam ekosistem hidrogen meliputi:

  • Kajian produksi: menilai teknologi dan bahan baku untuk menghasilkan hidrogen.
  • Distribusi energi: mengkaji penyimpanan dan pengangkutan hidrogen dengan aman.
  • Penyediaan fasilitas: mendukung pengembangan sistem pengisian bahan bakar.
  • Evaluasi keberlanjutan: mengukur biaya, efisiensi, serta emisi sepanjang rantai pasok.

Keberhasilan pengembangan ekosistem ini bergantung pada koordinasi antara perusahaan energi, operator transportasi, pemerintah, dan pihak yang menyediakan teknologi kendaraan.

Infrastruktur Pengisian Menjadi Tantangan Penting

Ketersediaan bus saja belum cukup untuk menjalankan layanan berbasis hidrogen. Operator membutuhkan fasilitas pengisian yang memenuhi standar keselamatan, pasokan hidrogen yang stabil, serta prosedur pemeliharaan yang sesuai dengan karakteristik kendaraan.

Pengembangan infrastruktur menjadi bagian penting dari penjajakan Pertamina dan Transjakarta. Fasilitas tersebut perlu disiapkan sejalan dengan rencana penempatan armada agar kendaraan dapat digunakan secara konsisten.

Beberapa kebutuhan utama infrastruktur meliputi:

  • Stasiun pengisian hidrogen: fasilitas khusus untuk mengisi tangki kendaraan.
  • Pasokan bahan bakar: ketersediaan hidrogen dengan kualitas dan tekanan yang sesuai.
  • Sistem penyimpanan: tangki dan peralatan yang memenuhi standar keselamatan.
  • Teknisi terlatih: petugas yang memahami pemeliharaan dan penanganan risiko hidrogen.
  • Prosedur darurat: sistem penanganan kebocoran, kebakaran, atau gangguan peralatan.

Biaya pembangunan fasilitas dan distribusi hidrogen dapat menjadi faktor penting dalam menentukan kelayakan operasional. Karena itu, kesiapan infrastruktur perlu dinilai bersamaan dengan kinerja kendaraan dan kebutuhan layanan Transjakarta.

Perbandingan Bus Hidrogen, Bus Listrik, dan Bus Diesel

Bus hidrogen bukan satu-satunya pilihan untuk mengurangi emisi transportasi umum. Bus listrik berbasis baterai dan bus diesel masih memiliki karakteristik berbeda dari sisi sumber energi, infrastruktur, dan biaya operasional.

Perbandingan berikut menggambarkan karakteristik umum ketiga teknologi, bukan hasil pengujian khusus armada Transjakarta.

Aspek Bus Hidrogen FCEV Bus Listrik Baterai Bus Diesel
Sumber energi Hidrogen Listrik yang disimpan dalam baterai Solar atau bahan bakar diesel
Penggerak Motor listrik Motor listrik Umumnya mesin pembakaran internal
Emisi dari kendaraan Air sebagai produk utama sel bahan bakar Tidak menghasilkan emisi knalpot saat digunakan Menghasilkan emisi pembakaran
Infrastruktur Produksi, penyimpanan, dan pengisian hidrogen Pengisian listrik dan fasilitas pendukung Pasokan dan pengisian bahan bakar diesel
Tantangan utama Pasokan hidrogen dan biaya infrastruktur Kapasitas baterai dan kebutuhan pengisian Emisi dan ketergantungan bahan bakar fosil


Pilihan teknologi yang paling sesuai perlu mempertimbangkan karakteristik rute, intensitas penggunaan, kebutuhan pengisian, dan biaya sepanjang masa pakai kendaraan. Perbandingan tersebut juga perlu memasukkan emisi dari pembangkitan listrik maupun produksi hidrogen, bukan hanya emisi ketika bus berjalan.

BACA JUGA:  Pengumuman Hasil Wawancara PPG Prajabatan 2026, Cek Jadwal dan Tahapan Selanjutnya

Dampak Potensial bagi Penumpang dan Kualitas Udara

Jika diterapkan dengan dukungan infrastruktur yang memadai, bus hidrogen berpotensi memperluas pilihan transportasi umum rendah karbon di Jakarta. Penggunaan kendaraan tanpa emisi knalpot dari proses elektrokimia dapat membantu mengurangi pencemaran lokal di sekitar jalur layanan.

Bagi penumpang, manfaat yang diharapkan tetap perlu dinilai berdasarkan hasil operasional. Kenyamanan perjalanan, ketepatan waktu, kapasitas armada, dan keterjangkauan tarif tetap menjadi aspek penting dalam layanan transportasi publik.

Dampak potensial yang dapat dievaluasi mencakup:

  • Pengurangan emisi lokal: terutama emisi dari pembakaran bahan bakar di dalam kendaraan.
  • Kenyamanan perjalanan: tingkat kebisingan dan getaran dapat berbeda dibandingkan bus bermesin diesel.
  • Keandalan layanan: ketersediaan kendaraan dan bahan bakar harus mampu mendukung jadwal perjalanan.
  • Kualitas udara: perubahan kualitas udara perlu diukur melalui pemantauan, bukan hanya disimpulkan dari penggunaan teknologi baru.

Manfaat tersebut belum dapat dianggap sebagai hasil yang sudah tercapai dari penjajakan kerja sama. Pengukuran dan evaluasi setelah kendaraan digunakan diperlukan untuk mengetahui dampak sebenarnya.

Tantangan Biaya, Keselamatan, dan Kesiapan Teknologi

Pengembangan bus hidrogen membutuhkan investasi untuk kendaraan, fasilitas pengisian, penyimpanan bahan bakar, dan pelatihan tenaga teknis. Biaya hidrogen juga dapat berbeda berdasarkan teknologi produksi, sumber energi, distribusi, dan skala penggunaan.

Selain biaya, keselamatan menjadi faktor utama karena hidrogen merupakan gas yang mudah terbakar dan memerlukan sistem penyimpanan serta penanganan khusus. Karena itu, fasilitas dan kendaraan harus memenuhi standar teknis yang berlaku.

Hal-hal yang perlu dikaji antara lain:

  1. Biaya investasi: harga armada dan pembangunan fasilitas pendukung.
  2. Biaya operasional: pengadaan hidrogen, perawatan kendaraan, serta kebutuhan tenaga teknis.
  3. Keselamatan: standar tangki, sistem deteksi kebocoran, ventilasi, dan prosedur darurat.
  4. Ketersediaan teknologi: kesiapan suku cadang, layanan perbaikan, dan tenaga ahli.
  5. Keberlanjutan energi: sumber hidrogen dan besarnya emisi selama proses produksi hingga pemakaian.

Kajian yang menyeluruh diperlukan agar pengembangan tidak berhenti pada penyediaan kendaraan, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan operasional dalam jangka panjang.

Penutup

Penjajakan Pertamina dan Transjakarta untuk mengembangkan bus hidrogen menjadi langkah awal dalam mengevaluasi penggunaan energi rendah karbon pada transportasi publik Jakarta. Kerja sama tersebut mencakup kajian teknologi, peluang proyek percontohan, serta pengembangan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendukung operasional kendaraan.

Dua bus hidrogen ditargetkan mulai ditempatkan pada 2028 dengan rencana pemanfaatan dalam layanan Transjakarta. Target tersebut masih perlu diikuti kesiapan kendaraan, pasokan hidrogen, fasilitas pengisian, serta keputusan operasional dari pihak terkait.

Keberhasilan pengembangan bus hidrogen akan bergantung pada kelayakan biaya, keselamatan, keandalan layanan, dan manfaat lingkungan yang dapat diukur. Perkembangan lebih lanjut perlu dinilai berdasarkan pengumuman resmi dan hasil penerapan teknologi di lapangan, bukan hanya rencana kerja sama.